Rahasia di Balik Sebuah Nama

Pernah mendengar ungkapan “What’s in a name?” atau apalah arti sebuah nama? Ya, petikan kalimat dari Juliet Capulet kepada Romeo Montague dalam roman Romeo & Juliet karya William Shakespeare tersebut memang sangat masyhur. Tak jarang orang menggunakannya sebagai jawaban ketika ditanya tentang namanya. Tapi betulkah nama tidak memiliki arti sebagaimana ungkapan tersebut ?

Lain lagi dengan Hellen Keller, seorang cendikiawati penyandang cacat ganda, tuna netra, tuna rungu, dan tuna wicara. Dia mengalami sendiri betapa penting dan berartunya sebuah nama. Dalam “Everything Has a Name”, ia menulis betapa cakrawala pemikirannya menjadi terbuka saat menyadari bahwa segala sesuatu ada namanya.

Secara psikologis, nama bukanlah masalah sepele. Nama bukan saja menjadi identitas bagi pemiliknya tapi nama juga dapat membentuk kepribadian dan mempengaruhi perkembangan emosi dan sifat-sifat pemiliknya secara langsung maupun tidak langsung.

Di Barat, banyak studi penelitian dilakukan untuk mengetahui bahwa pemilihan nama anak berpengaruh besar pada kehidupannya sampai dewasa. Misalnya, jika anak lelaki dinamai dengan nama yang mirip anak perempuan. Maka hal itu akan memicu problem perilaku pada kehidupannya.

Di sekolah pun, cenderung bermasalah. Ini tidak aneh, sebab memang rasanya janggal jika seseorang harus menerima fakta bahwa dia dipanggil dengan nama yang mirip anak perempuan, padahal dia lelaki. Belum lagi ejekan dari teman-temannya sendiri, atau salah sangka dari orang lain. Nama juga berpengaruh terhadap perilaku si anak. Menurut hasil penelitian tersebut, anak perempuan yang menyandang nama seperti lelaki memang menjadi tertarik pada bidang yang biasa disukai lelaki, seperti sains dan matematika.  Sedangkan anak perempuan dengan nama feminim cenderung tertarik pada bidang kemanusiaan dan penampilan mereka lebih feminim.

Pada tahun 1966, John McDavid dan Herbert Harari juga pernah meneliti pengaruh nama terhadap anak. Mereka mendapati anak-anak yang namanya tidak menarik biasanya sering dikucilkan oleh kelompok anak-anak seusianya. Sedangkan ketidakpopuleran anak juga akan mempengaruhi kemampuannya dalam bersosialisasi dengan teman sebayanya.

Begitu juga dengan nama yang memiliki kedekatan agama seperti Muhammad, Ibrahim. Kedekatan mereka terhadap agama lebih baik daripada mereka yang memiliki nama non-agama.

Sadar atau tidak sadar, sebenarnya setiap orang akan terdorong untuk memenuhi citra yang terkandung dalam namanya. Nama yang baik akan membawa anak mempunyai citra yang positif tentang dirinya, yaitu berkembang menjadi manusia yang memiliki kepribadian baik. Begitu juga sebaliknya.

Hal ini menjadi perhatian yang sangat penting bagi para calon konselor dalam memahami sebuah nama. Selain harus hafal akan nama-nama siswa yang nantinya sebagai kewajiban konselor untuk memberikan perhatian dan pengertian lebih pada siswa karena nama juga seakan sebagai identitas seseorang dalam mewakili kepribadiannya juga siapa itu dirinya. Perkembangan setiap orang selalu berbeda tergantung lingkungannya dan pergaulan disekitarnya. Selain itu, panggilan-panggilan yang kurang enak didengar dapat mempengaruhi tingkah laku siswa sehingga sikap dan laku yang seharusnya relevan dengan nama asilnya menjadi sebuah anomali-anomali yang meresahkan dirinya, baik secara bagaimana dia bersosialisasi, bertingkah, bersikap, maupun bertutur kata kepada orang lain atau pada lingkup teman sebayanya. (Dikutip dari majalah Ar-Risalah No. 120/ Vol. X/ 12 / Juni 2011)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *