KUNJUNGAN HIMA PPB KE PONPES WARIA AL FATAH

KUNJUNGAN

Jumat, 9 Oktober 2015, Himpunan Mahasiswa Psikologi Pendidikan dan Bimbingan mengadakan kunjungan ke Pondok Pesantren Waria Al Fatah Kotagede Yogyakarta. Acara dimulai pada pukul 14.00 dengans sambutan Ketua HIMA PPB, Azis Suryaman, sambutan Ketua Panitia Kunjungan, Dwi Sari Mu’jizah dan sambutan dari tuan rumah yang merupakan Kepala Pondok Pesantren Waria, Ibu Shinta.

Ibu Shinta menceritakan awal mula berdirinya pondok pesantren tersebut. Bermula dari para waria yang mendapat perlakuan berbeda atau diskriminasi dari masyarakat ketika mereka akan beribadah. Pandangan negatif tentang waria di mata masyarakat membuat para waria akhirnya memutuskan untuk bergabung dan membangun pondok pesantren tersebut. Saat ini di pondok pesantren tersebut juga terdapat ustadz yang secara sukarela membantu para waria belajar agama.

Acara inti dari kunjungan ini adalah sharing. Peserta kunjungan yang berjumlah kurang lebih 24 orang ditambah waria yang berjumlah kurang lebih 12 orang membentuk 4 kelompok kecil. Di kelompok tersebut peserta bebas menanyakan apa saja. Kegiatan berlangsung lancar ditambah peserta yang sangat antusias ketika berdiskusi dalam kelompok. Acara berakhir pada pukul 16.30. ditutup dengan pemberian kenang-kenangan dan foto bersama.

Waria-waria yang ada di pondok pesantren tersebut menganggap bahwa menjadi waria adalah jalan yang memang harus dilewati selayaknya takdir. Gen adalah salah satu penyebab mengapa seseorang menjadi waria.
Banyak pelajaran yang di dapat oleh peserta yang mengikuti kegiatan tersebut. bagimana latar belakang mereka menjadi seorang waria, bagaimana perasaan mereka ketika mendapat diskriminasi oleh masyarakat, dan bagaimana pandangan mereka mengenai waria itu sendiri. Mungkin banyak juga timbul pertanyaan di benak kita, apakah bukan suatu hal yang penting bahwa sebuah pondok pesantren waria ada di sebuah negara yang tidak melegalkan LGBT seperti yang sering diperbincangkan akhir-akhir ini? Bagaimana pula apabila dilihat dari sisi agama, karena Indonesia merupakan negara yang beragama?

Namun, hal yang dapat dipetik dari kegiatan ini adalah jangan memandang sesuatu hal dari satu sudut pandang saja. Apapun pilihan sesorang mereka berhak dan bertanggung jawab atas pilihannya. Dan sebagai manusia, kita adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Senada dengan tema kunjungan, yaitu ‘Karena Mereka Bagian dari Kita”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>